HARIININEWS.COM – Drama soal kehadiran bus Trans Manado dengan angkutan kota atau mikrolet di Kota Manado belum sepenuhnya berakhir.
Meski aksi damai sopir trayek Lapangan dan Malalayang telah berlalu, operasional bus Trans Manado hingga Kamis (22/1) terpantau masih berjalan seperti biasa di sejumlah ruas jalan kota.
Sebelumnya, ketegangan antara sopir angkot dan pengelola transportasi massal mencuat setelah para sopir menilai trayek mereka diambil alih tanpa adanya solusi yang jelas.
Kondisi ini mendorong ribuan sopir dan pengusaha angkutan umum menyampaikan sikap melalui rencana aksi damai besar-besaran ke Kantor Wali Kota Manado.
Rencana aksi tersebut tertuang dalam dua surat pemberitahuan resmi yang ditujukan kepada Polresta Manado.
Surat pertama berasal dari Persatuan Sopir-sopir Lapangan dan Malalayang yang menilai operasional Bus Trans Manado telah masuk ke trayek angkutan kota yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Dalam surat tertanggal 12 Januari 2026, sopir trayek Malalayang menyampaikan rencana aksi pada 15 Januari 2026 dengan titik kumpul di depan Terminal Malalayang (MBW).
Massa kemudian bergerak menuju Zero Point melalui Jalan Pierre Tendean sebelum melanjutkan aksi ke Kantor Wali Kota Manado.
Aksi tersebut diperkirakan melibatkan sekitar 200 unit kendaraan dengan kurang lebih 350 peserta.
Sementara sopir trayek Lapangan direncanakan berkumpul di Jalan Martadinata untuk bergabung dengan massa dari Malalayang di Zero Point.
Dari trayek ini, jumlah kendaraan diperkirakan mencapai 150 unit dengan sekitar 200 orang peserta.
Dalam pemberitahuan itu, massa aksi juga membawa alat peraga seperti baliho, pengeras suara, dan bendera.
Aksi lanjutan juga direncanakan oleh Asosiasi Pengusaha Angkutan Umum Kota Manado bersama sopir angkutan umum.
Dalam surat pemberitahuan tertanggal 20 Januari 2026, asosiasi menyampaikan rencana aksi damai pada Jumat, 23 Januari 2026.
Aksi tersebut diperkirakan melibatkan sekitar 1.500 orang dengan kurang lebih 500 unit mikrolet dari berbagai trayek, termasuk Malalayang, Lapangan, Paal Dua, dan Kairagi.
Massa dijadwalkan bergerak dari Terminal Malalayang dan Jalan Martadinata menuju pusat kota sebelum berakhir di Kantor Wali Kota Manado.
Meski sejumlah aksi telah berlangsung, hingga Kamis (22/1) belum terlihat perubahan signifikan di lapangan.
Bus Trans Manado masih beroperasi normal, sementara para sopir angkot menilai aspirasi mereka belum mendapatkan jawaban tuntas.
Mereka berharap pemerintah kota segera menghadirkan solusi yang adil agar kehadiran transportasi massal tidak mematikan angkutan kota yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung mobilitas dan mata pencaharian ribuan warga Manado. (rds)


Comment